Gambaran Umum Sejarah Negeri Kailolo
Konteks Maluku dan Pulau Haruku
Maluku, sebagai salah satu provinsi di bagian timur Indonesia dengan Kota Ambon sebagai ibu kota, dikenal sebagai “provinsi seribu pulau” dengan sekitar 1.450 pulau, sekaligus dijuluki “negeri Raja-Raja” karena sebagian besar desa atau negerinya merupakan negeri adat. Negeri Kailolo adalah salah satu negeri adat tersebut, terletak di Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah.
Pulau Haruku memiliki sejarah panjang, khususnya terkait penyebaran Islam dan kedatangan penjajah Barat yang mendominasi perdagangan cengkih pada abad ke-16 M. Dari sebelas negeri yang ada di pulau ini, empat berpenduduk Muslim — dan Kailolo adalah satu di antaranya yang memiliki hubungan khusus dengan Muslim Arab. Kailolo dahulu merupakan bagian dari Kerajaan Islam Uli Hatuhaha, sebuah kerajaan Islam di kepulauan Maluku pada abad ke-14 M.
Asal-Usul dan Masuknya Islam
Menurut cerita lisan turun-temurun, leluhur masyarakat Kailolo telah menduduki perkampungan ini jauh sebelum kedatangan bangsa Belanda dan Portugis. Islam diyakini pertama kali hadir di Kailolo sejak sekitar abad ke-8 M, dibawa langsung oleh Syekh Ali Zainal Abidin, seorang cicit Rasulullah SAW (dari garis Husain bin Ali bin Abi Thalib). Keyakinan ini diperkuat dengan keberadaan makam atau “karomah” Syekh Ali Zainal Abidin di atas sebuah bukit di Kailolo.
Penyebaran Islam di Kailolo terus berkembang, dan menurut kisah masyarakat setempat, pada sekitar abad ke-12 M, desa ini pernah disinggahi oleh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) — salah satu Wali Songo. Persinggahan ini dikaitkan dengan makam Sunan Gresik yang terletak satu tingkat di bawah pusara Syekh Ali Zainal Abidin di bukit yang sama.
Karena akar sejarah keislamannya yang kuat ini, Negeri Kailolo juga dikenal dengan sebutan “Serambi Mekah”, dan hingga kini seluruh penduduknya memeluk agama Islam.
